Minggu, 13 Desember 2009

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan



“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah, Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.
Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.
(Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.”)
Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati Sirathal Mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”
(Aku –Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini– berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.)


Al-Qolam Kr-Moncol

Senin, 30 November 2009

Teladan Sepanjang Masa



Jannah adalah asma amanina, cita-cita dan harapan kita yang tertinggi. Seluruh aktivitas kita, seharusnya adalah susunan dari potongan-potongan kecil misi kita untuk meraih Jannah. Sehingga hidup ini seperti sebuah program, memiliki misi yang hendak dicapai, yang kemudian diturunkan menjadi program-program turunan dengan target yang ditentukan. Dari tahunan, bulanan dan harian.
Agar pelaksanaan program bisa lebih mudah, kita bisa melihat prototipe atau contoh yang sudah ada, yang telah sukses mendapatkannya bahkan saat masih berada di dunia. Kita bisa temukan ini pada orang-orang yang telah Allah janjikan dan dipastikan akan masuk Jannah. Ada beberapa, tapi yang paling utama adalah al Asyrah al Mubasyarun bil jannah yaitu; Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin al Khattab, Utsman Bin 'Affan, 'Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah , Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah ibnul Jarrah.
Yang lainnya, ada beberapa shahabat yang diridukan Jannah seperti disabdakan Rasulullah SAW,
"Ada empat sosok yang dirindukan oleh Jannah: Ali bin Abi Thalib, Ammar bin Yasir, Salmaan Al-Faarisi dan Al-Miqdaad bin Al-Aswad. Semoga Allah senantiasa meridiai mereka." (Lihat Al-Mu'jamul Kabier oleh Ath-Thabraani II : 6 : 14)
Bagaimana mereka dapat mencapai kesuksesan sedemikian besar, dijamin surga sedang nyawa masih di ada, kita bisa melihat cara mereka menjalankan program hidup di dunia. Kemudian kita menyerap faidah dan menjadikan mereka teladan.
Dari Abu Bakar ash Shidiq, kita bisa belajar bagaimana membentuk loyalitas yang begitu kuat, tak membabi buta tapi benar-benar lurus dan bijaksana. Semuanya hanya ditujukan untuk mencapai Ridha dan Jannah-Nya. Dari Umar bin al Khattab, kita bisa menyerap pancaran keyakinan yang mendalam. Kekuatan dan keberanian serta intuisi menegakkan al haq yang begitu kuat. Yang kesemuanya berasal dari kejernihan hati dan pikiran. Dari Utsman bin Affan, kita bisa menggali dan mendulang lagi permata-permata malu yang pada hari ini telah terkubur seiring waktu. Dari Sosok Ali, kita dapat mencontoh kecerdasan yang rasyid, lurus. Bukan kecerdasan yang digunakan untuk mencari hilah (alibi licik), tapi kecerdasaan yang selalu siap untuk menolong agama Allah. Juga dari keenam selainnya dan dari para shahabat yang mulia, manusia-manusia sukses di Akhirat dan dunia.
Memang, kita tidak akan bisa menyamai mereka dalam fadhilah atau keutamaan. Karena bagaimanapun kita beramal kebaikan, melalui mereka jualah kita kebaikan itu tersiarkan. Seperti dikatakan, al fadhlu limubtadi wa in ahsanal muqtadi, kutamaan itu bagi yang memulai, meski yang mengikuti bisa melakukan yang lebih baik. Akan tetapi, cara dan sikap mereka dalam menjalankan program hidup di dunia bukan sesuatu yang mustahil untuk ditiru dan diterapkan pada saat ini ataupun nanti. Wallahua'lam. (vifa)

Minggu, 29 November 2009

TOTAL TAQWA


Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadhan selalu tampak istimewa. Perubahan drastis tampak ketara dalam karakter manusia pada umumnya. Sebagian yang tadinya malas melakukan kewajiban agama, berubah tunduk dan patuh terhadap syariat. Mereka rela menahan lapar dan haus dari fajar hingga tenggelam matahari. Ini dilakukan selama sebulan penuh. Luar biasa. Tentu ini bukan perkara yang ringan dan mudah. Karena tabiat manusia ingin makan saat ia lapar, ingin minum saat haus. Belum lagi ia harus bangun sebelum fajar untuk menyantap sahur yang disunnahkan Nabi saw.

Takwa Adalah Taat
Shaum adalah bukti takwa, sebagaimana shaum juga akan berbuah takwa secara total, takwa dalam hal apapun, kapanpun dan di manapun. Orang yang shaum rela menahan lapar, haus dan nafsunya demi mentaati Allah, hingga Allah memuji orang yang shaum dalam hadits Qudsi,

"Mereka rela meninggalkan syahwatnya dan makannya karena-Ku."
Ketika seseorang terbiasa dengan shaum, menahan beratnya lapar dan haus seharian dan berlangsung satu bulan lamanya, maka tentunya akan lebih mudah baginya menjalani perintah Allah yang lain. Apalagi jika perintah itu tidak lebih berat dari shaum.
Sudah saatnya kita cermati setiap perintah dari perintah Allah dan Rasul-Nya. Adakah perintah syariat yang belum kita jalani.
Shalat akan terasa ringan, karena hanya membutuhkan waktu tak begitu lama. Maka sangat aneh jika seseorang mampu melakukan shaum, namun berat dan malas dalam menjalani shalat.
Bagi seorang muslimah, mengenakan jilbab ketika keluar rumah jelas lebih ringan daripada shaum. Aneh pula ketika mereka mampu melakukan shaum sebulan penuh, namun tak mau mengenakan jilbab. Padahal, mengenakan jilbab adalah kewajiban bagi muslimah, sebagaimana pula shaum juga kewajiban, dan itu jelas lebih ringan dari shaum.
Secara lebih umum, penerapan syariat Islam juga merupakan kewajiban asasi. Lagi-lagi dalam hal ini juga terjadi kejanggalan. Bagaimana sebagian kita menerima dan melaksanakan satu perintah, lalu menampik perintah yang lain? Sementara Allah memberi peringatan keras,
"Apakah kamu beriman kepada sebahagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat." (QS. Al-Baqarah 85)

Berharap Hanya Kepada Allah
Ada sisi tarbiyah lain dalam shaum ramadhan. Orang yang melakukan shaum takut melakukan sesuatu yang bisa membatalkan shaum, meskipun tak seorangpun melihatnya. Ia tak akan makan atau minum dengan sembunyi-sembunyi, meskipun lapar dan haus semakian berat dirasakan. Mengapa? Karena ia tak ingin amalnya sia-sia, ia ingin shaumnya menghasilkan pahala. Dari sisi ini, orang yang shaum terbiasa untuk mempersembahkan amal terbaiknya kepada Allah, untuk mendapatkan pahala dari Allah. Ini juga merupakan gambaran dari takwa yang merupakan buah yang diharapkan dari shaum. Seperti dijelaskan oleh Abdullah bin Mas'ud rdl ketika mendefiniskan takwa,
"Hendaknya engkau mentaati Allah sesuai dengan petunjuk Allah dan mengharap pahala dari Allah. Dan hendaknya engkau meninggalkan maksiat, sesuai petunjuk Allah, karena engkau takut adzab Allah."
Berharap pahala dari Allah dengan shaum ini juga akan berefek pada amaliyah yang lain. Sebagaimana seseorang ingin shaumnya bernilai, ia juga ingin shalatnya bernilai, sedekahnya bernilai, hajinya bernilai, dan seluruh amalnya bernilai. Karenanya, ia tidak akan mencederai amal shalihnya dengan noda riya', ujub, sum'ah dan penyakit lain yang menjadikan amal sia-sia.
Takwa dengan seluruh wilayah dan konsekuensinya inilah yang mestinya menjadi buah shaum yang diharapkan. Untuk tujuan itulah Allah mewajibkan shaum,yakni la'allakum tattaquun, "Agar kalian bertakwa."

Gambaran Takwa Dalam Sosok Para Sahabat
Hasil tarbiyah ramadhan berupa takwa, sangat tampak dalam diri para sahabat dan ulama salaf setelahnya. Ketika datang perintah, mereka bersegera melakukannya, tanpa bertanya status hukumnya, wajib atau sunnah. Karena manapun jawabannya, mereka tetap akan melakukannya. Berbeda dengan orang yang menanyakan status hukumnya, tapi yang dituju sebenarnya dia hendak meminta permakluman untuk tidak mengerjakan jika ternyata hukumnya sunnah.
Lihatlah para sahabiyah Nabi saw, mereka menyambut perintah mengenakan kerudung dengan segera, sebagaimana diceritakan oleh Ummul Mukminin Aisyah RDL, beliau berkata, "Di antara wanita-wanita Quraisy, banyak yang memiliki keutamaan, dan demi Allah, aku tidak pernah melihat kaum wanita yang lebih utama dari wanita Anshar dalam hal membenarkan Kitabullah dan mengimaninya. Ketika turun surat an-Nuur 31
"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,"
Suami-suami mereka segera kembali ke rumah untuk membacakan kepada istri-istri mereka tentang ayat yang Allah turunkan. Ada seseorang yang membacakan kepada istrinya, puterinya, saudarinya maupun kerabat wanitanya. Di antara mereka ada seorang wanita yang langsung menyambar kainnya, lalu dia pergunakan untuk menutup kepalanya, sebagai bentuk pembenaran dan bukti keimanan terhadap apa yang diturunkan oleh Allah."
Begitulah cara mereka menyambut perintah Allah. Adapun ketika menjauh dari larangan Allah, tidak kalah menakjubkan. Dahulu orang-orang Arab biasa menenggak khamr, dan belum ada larangan yang tegas dalam Islam, hingga turunlah ayat,
"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka tidakkah kalian mau berhenti?" (QS. al-Maidah 90-91)
Setelah turun ayat tersebut, Nabi bertemu dengan seorang penjual khamr, lalu beliau bertanya, "Wahai fulan, tidakkah kamu tahu bahwa khamr itu haram?" Orang itupun segera memerintahkan pelayannya untuk menjualnya. Lalu Nabi bertanya lagi, "Wahai fulan, apa yang engkau perintahkan kepadanya?" Orang itu menjawab, "Aku perintahkan ia untuk menjual khamr itu." Nabi saw bersabda,

"Sesungguhnya sesuatu yang haram diminum, haram pula menjualnya." (HR Ahmad). Lalu orang itupun membuangnya.
Di lain peristiwa, seperti yang diceritakan oleh Anas bin Malik RDL, bahwa para sahabat sedang menuangkan khamr ke dalam gelas mereka. Tiba-tiba saja terdengar seruan, "Sesungguhnya khamr telah diharamkan!" Maka serta merta mereka menumpahkan khamrnya, memecah wadahnya, dan sebagiannya lagi segera berwudhu." Ketika Anas bin Malik menuju masjid, terdengarlah dari Nabi membacakan ayat tersebut.
Menyambut peringatan dari Allah, "Dan apakah kalian tidak mau berhenti?" Dengan serentak mereka menjawab, "Intahaina ya Rabb!", kami berhenti wahai Rabbi.
Buah seperti itukah yang telah kita rasakan setelah shaum di tahun lalu? Jika belum, perlu perbaikan kualitas shaum kita di tahun ini, agar kita mendapatkan buah takwa secara total. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun ini. Amin.
(Abu Umar A)

Minggu, 22 November 2009

MENGAMBIL TELADAN KEHIDUPAN PARA NABI

Islam memberikan perhatian besar terhadap pengajaran kepada umatnya, salah satunya melalui kisah-kisah orang terdahulu. Sehingga, jika dicermati, selain berisi hukum dan akidah, al-Quran dipadati pula dengan kisah-kisah penuh hikmah.

Allah memberi gambaran konkret tentang kehidupan orang-orang yang meniti jalan lurus dengan pemaparan kisah para nabi dan orang-orang shalih. Demikian juga, al-Quran memberikan gambaran kehidupan orang-orang kafir dan durhaka dengan menceritakan kehidupan kaum yang membangkang dari ajaran para nabi, termasuk di antaranya beberapa istri dan anak nabi yang diutus oleh Allah.

Allah berfirman,
“Dan kami telah mengutus rasul-rasul yang sungguh telah kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu….” (an Nisa : 164)

Namun sayang, kisah-kisah yang begitu berharga itu, seakan hanya tersimpan rapi dalam bait-bait ayat al-Quran yang suci. Di zaman ini, umat Islam lebih akrab dengan cerita-cerita khayal/fiksi yang merebak dalam bentuk cerpen, komik, film-film, maupun sinetron TV. Bahkan, sejarah kehidupan Nabinya sendiri pun, banyak yang tidak mengerti.

Padahal, kisah-kisah dalam al-Quran lebih berharga dan mulia, daripada sekadar kisah-kisah yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk lebih tertarik dan bersemangat meneladani kisah-kisah tersebut. Allah berfirman,

“Kitab (al-Quran) ini, tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (al Baqarah : 2)

Selain itu, para nabi dan orang-orang shalih tersebut merupakan manusia-manusia pilihan yang telah teruji keimanannya dan dibimbing agar bisa selamat dari ujian dunia, sebagaimana dalam firman-Nya,

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (al An’am : 90)

Untuk itu, dalam edisi ini Nikah berusaha memotivasi para pembaca, agar lebih memperhatikan dan mencintai kisah-kisah para nabi dan bisa mengambil berbagai hikmah darinya. Kisah-kisah para nabi tersebut, juga lebih pantas untuk digunakan sebagai media pengajaran bagi generasi Islam.

Selayaknya, mereka sejak dini mendapatkan bimbingan islami melalui kisah-kisah para nabi ini. Sehingga mereka bisa berpikir, bahwasanya dunia ini hanyalah ujian dan tempat sementara bagi manusia, dan di akhirat lah kehidupan yang sebenarnya.

“Maka, ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (al A’raf : 176)

Diambil dari majalah Nikah

Senin, 16 November 2009

Arsitek Jenius Sarang Lebah

Lebah adalah salah satu hewan yang luar biasa. Ia menghasilkan madu, cairan manis yang bisa menjadi obat berbagai macam penyakit. Sistem koloni dalam masyarakat lebah menjadi simbol persatuan dan kerjasama yang apik dan tertata rapi. Bentuk sarangnya juga unik dan menakjubkan.
Sarang lebah terdiri dari kumpulan tabung bersisi delapan yang menempel satu sama lain. Yang membuat sarang lebah menjadi bangunan yang hebat adalah sistem ventilasinya. Lebah tahu, untuk menyimpan madu yang berkualitas, diperlukan sarang yang memiliki ventilasi terbaik agar kelembaban sarangnya terjaga. Begitu juga, sarang harus bersuhu 35O C selama sepuluh bulan. Untuk menjaga suhu dan kelembapan sarang ini pada batas tertentu, ada kelompok khusus yang bertugas menjaga ventilasi.
Jika hari panas, lebah mendinginkannya dengan cara yang unik. Jalan masuk sarang dipenuhi lebah. Sambil menempel pada struktur kayu, mereka mengipasi sarang dengan sayap. Dalam sarang standar, udara yang masuk dari satu sisi terdorong keluar pada sisi yang lain. Lebah ventilator yang lain bekerja di dalam sarang, mendorong udara ke semua sudut sarang.
Selain itu, lebah juga amat menjaga kesehatan sarangnya demi menjaga kualitas madunya. Dalam sarang terdapat sistem pemeliharaan kesehatan yang sempurna. Tujuan utama sistem ini adalah menghilangkan zat-zat yang mungkin menimbulkan bakteri dengan cara mencegah zat-zat asing memasuki sarang. Untuk itu, dua penjaga selalu ditempatkan pada pintu sarang. Jika suatu zat asing atau serangga memasuki sarang walau sudah ada tindakan pencegahan ini, semua lebah bereaksi untuk mengusirnya dari sarang.
Untuk benda asing yang lebih besar yang tidak dapat dibuang dari sarang, digunakan mekanisme pertahanan lain. Lebah membalsam benda asing tersebut. Mereka memproduksi suatu zat yang disebut "propolis" (resin lebah) untuk pembalsaman. Resin lebah ini diproduksi dengan cara menambahkan cairan khusus yang mereka keluarkan dari tubuh kepada resin yang dikumpulkan dari pohon-pohon seperti Pinus, Hawwar, dan Akasia. Resin lebah juga digunakan untuk menambal keretakan pada sarang. Setelah ditambalkan pada retakan, resin tersebut mengering ketika bereaksi dengan udara dan membentuk permukaan yang keras. Dengan demikian, sarang dapat bertahan dari ancaman luar. Lebah menggunakan zat ini hampir dalam semua pekerjaan mereka. (noe, sumber: harunyahya.com)