Rabu, 24 April 2019

Do’a Dua Malaikat Setiap Subuh



Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk berinfaq. Anjuran yang bahkan pada bagian awal surah Al-Baqarah telah disebutkan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala menggambarkan salah satu karakter utama orang bertaqwa.
الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
“Alif Laam Miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan meng-infaq-kan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”
(QS Al-Baqarah ayat 1-3)
Dalam ayat di atas Allah ta’aala menyebutkan karakter muttaqin yang biasa berinfaq bersama karakternya yang rajin menegakkan sholat. Di dalam Al-Qur’an hampir selalu karakter menegakkan sholat dan mengeluarkan infaq disebutkan dalam suatu rangkaian berpasangan. Hal ini mudah dimengerti sebab ajaran Islam selalu menekankan keseimbangan dalam segala sesuatu. Islam bukan semata ajaran yang mewujudkan hubungan antara hamba dengan rabbnya atau hablum minAllah, tetapi juga hubungan antara hamba dengan sesama hamba atau hablum minan-naas.
Uniknya lagi, di dalam ajaran Islam bila suatu perintah Allah ta’aala dilaksanakan, maka bukan saja hal itu menunjukkan kepatuhan seorang hamba akan rabbnya, melainkan dijamin bakal mendatangkan manfaat bagi si hamba. Ini yang disebut dengan fadhilah atau keutamaan suatu ’amal-perbuatan. Misalnya sholat malam atau tahajjud. Allah ta’aala menjanjikan bagi pelakunya bakal memperoleh kekuatan daya pengaruh ketika berbicara.
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا
أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
“Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.” (QS AlMuzzammil ayat 1-5)
Contoh lainnya bila seseorang meningkatkan ketaqwaan kepada Allah ta’aala maka di antara fadhilah yang akan ia peroleh adalah penambahan ilmu dari Allah ta’aala, jalan keluar kesulitan hidupnya serta rizqi dari arah yang tidak disangka-sangka.
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ
”Dan bertakwalah kepada Allah; Allah (akan) mengajarmu.” (QS AlBaqarah ayat 282)
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
”Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq ayat 2-3)
Demikian pula dengan berinfaq. Allah ta’aala menjanjikan fadhilah di balik kedermawanan seseorang yang rajin berinfaq.
قُلْ إِنَّ رَبِّي يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya).” Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS Saba’ ayat 39)
Bahkan dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan keuntungan yang bakal diraih seseorang yang rajin berinfaq di pagi hari sekaligus kerugian yang bakal dideritanya bilamana ia tidak peduli berinfaq di pagi hari.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (البخاري)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”, sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)” (HR Bukhary 5/270)
Pembaca yang budiman, marilah kita galakkan berinfaq di pagi hari agar malaikat mendoakan kelapangan rizqi yang memang sangat kita perlukan untuk memperlancar ibadah, amal sholeh, da’wah dan jihad kita di dunia. Dan jangan biarkan ada satu pagipun yang berlalu tanpa berinfaq sebab itu sama saja kita mengundang kerusakan dalam hidup sebagaimana doa malaikat yang satunya di setiap pagi hari.
Ketahuilah, bukan banyaknya jumlah infaq yang penting melainkan kontinuitas-nya. Lebih baik berinfaq sedikit namun konstan terus-menerus daripada berinfaq dalam jumlah besar namun hanya sekali setahun atau seumur hidup. Orang yang konstan berinfaq tidak bakal dipengaruhi oleh musim. Dalam masa paceklik tetap berinfaq, dalam masa panen tentu lebih pasti.
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ
أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit.”
(QS Ali Imran ayat 133-134)
----------------------------------------
Oleh : Ihsan Tanjung
----------------------------------------
Al-Qolam Kr-Moncol 

Takwa, Menyelesaikan Masalah tanpa Masalah



Orang bilang, life is not flat, hidup itu tidak akan datar-datar saja. Ada lika-liku dan naik turunnya. Ada kalanya bahagia, ada kalanya pula diterjang masalah yang membuat hati gundah gulana.Hidup memang tidak akan lekang dari masalah, bahkan bisa dibilang masalah itulah yang membuat hidup dikatakan “hidup”. Karenanya, orang bijak menasehati, kalau ingin hidup jangan takut menghadapi masalah.
Bagi seorang muslim, yang lebih penting bukan cuma keberanian menghadapi masalah, tapi bagaimana menghadapi dan menyelesaikan masalah hidup dengan benar. Bagaimana mencari solusi yang benar-benar merupakan solusi dan bukan sekadar pengalihan atau pelarian menuju masalah lain. Dan untuk ini, Allah telah memberikan jalannya. Allah berfirman:
“ … Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu".
Untuk mendapatkan jalan keluar dari berbagai persoalan hidup, patokannya adalah takwa. Takwa dalam arti selalu mengacu kepada petunjuk-petunjuk ilahi dalam mencari solusi dan menyelesaikanpersoalan kehidupan. Takwa adalah faktor penting yang akan memudahkan kita menghadapi problem di dunia dan akhirat. Tanpa takwa meskipun urusan dunianya bisa mudah, urusan akhiratnya akan sulit.
Mendapat Keajaiban
Lebih dari itu, takwa juga akan membuat kita mendapat  anugerah yang tidak disangka-sangka. Seperti kita tahu, problem hidup sangat beragam. Layaknya hujan, kadang cuma rintik air yang boleh jadi justru semakin membuat indah suasana, tapi kadang sangat deras hingga membuat pandangan kita terhalang. Saat menghadapi problema hidup yang berat, acapkali pikiran kita buntu. Saat itulah kita sering mengkhayalkan munculnya suatu keajaiban. Sesuatu yang datang tiba-tiba dan tanpa diusahakan alias murni dari Penguasa alam semesta, yang kemudian menyelesaikan semuanya.
Dan sesuai ayat di atas, ternyata “keajaiban” itu memang bisa terjadi. Allah maha mampu untuk mewujudkan hal itu. Allah maha kuasa untuk menyelesaikan problema kita, dengan usaha dari kita atau bahkan saat kita tak mampu lagi berusaha dan hanya bisa pasrah. Karenanya ada yang bilang, “Saat menghadapi masalah jangan katakan, Wahai Rabb, aku punya masalah besar, tapi katakanlah,  wahai masalah, aku punya Rabb yang Maha besar.” Ya, kita memiliki Rabb yang mampu mengentaskan kita dari masalah sebesar apapun. Meskipun, penggalan pertama kalimat ini juga tidak sepenuhnya benar. Saat menghadapi masalah kita juga dianjurkan berdoa, mengadukan persoalan yang dihadapi kepada Allah. Bukan sekedar optimis Allah akan membantu kita.
Jangan disalah artikan bahwa ayat ini mengajarkan kita untuk berdiam diri saja. Justru sebaliknya, mengajari kita untuk berusaha sekuat tenaga namun harus sesuai tuntunannya. Karena orang yang bertakwa akan bertawakal, dan tawakal bukanlah duduk menunggu tapi tetap bergerak untuk menjemput pertolongan Allah.
Rezeki Terhalang Karena Dosa
Nah sekarang kita bisa membuat list, problem besar apa sajakah yang kita hadapi? Sudahkan kita berusaha menyelesaikannya dengan takwa, atau malah dengan cara-carayang bisa membuat Allah murka?
Kalau kita renungi, masalah hidup yang paling banyak dan sering menghujani manusia adalah soal rezeki;hutang, kran penghasilan yang kecil, musibah yang menghabiskan harta benda serta berbagai urusan terkait basic need atau kebutuhan dasar manusia. Hal ini klop dengan ayat di atas, dimana Allah menyebutkan bahwa dengan bertakwa, Allah akan memberikan jalan keluar dan memberikan rezeki yang tak disangka-sangka.
Dan tanpa takwa, besar kemungkinan seseorang tidak akan mendapatkan jalan keluar dari masalahnya, apalagi anugerah rezeki yang tidak diduga. Rezeki yang hilang atau tak jadi datang juga kebutuhan yang terusa saja meningkat, bisa jadi karena kita meninggalkan takwa. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda,
إِنَّالْعَبْدَلَيُحْرَمُالرِّزْقَبِالذَّنْبِيُصِيْبُهُ
“Dan seorang hamba benar-benar akan terhalang dari rezeki karena suatu dosa yang dilakukannya.” (HR. Ibnu Majah, dinilai hasan oleh Syaikh al Albani).
Mungkin kita bertanya, tapi mengapa orang yang durhaka justru banyak yang rezekinya melimpah meski mungkin tidak halal?
Memang benar, itu bisa saja terjadi. Tapi Ibnul Qayim menjelaskan, “Orang yang meninggalkan takwa, meskipun mungkin sebagian urusan dunianya mudah, urusan akhiratnya bakal sulit sejauh mana ia meninggalkan takwa. Andai saja dia mau bertakwa, tentu kemudahan yang telah diterima akan lebih sempurna lagi. Dan kalau ternyata dia juga menemukan kesulitan karena tidak bertakwa, boleh jadi Allah sebenarnya akan memudahkan dia pada urusan yang lebih bermanfaat dari yang sudah dia dapatkan tanpa takwa itu. Karena sesungguhnya, kehidupan yang baik, hati yang nyaman, jiwa yang tenang dan bahagia adalah nikmat dunia yang jauh lebih berharga dari nikmat yang diperoleh penyembah dunia berupa syahwat dan kenikmatan. (at Tibyan fi Aqsamil Quran, 1/36).
Semoga Allah senantiasa menjadikan hati kita dipenuhi ketakwaan. Selalu ringan dalam mengikuti tuntunannya dan menjauhi yang dilarang. Dengan itu, kita berharap akan dikaruniai kemudahan  dalam berbagai urusan dan diberi anugerah dari arah yang tidak kita duga. Amin (anwar)

Al-Qolam Kr-Moncol

Minggu, 10 November 2013

MUTIARA AQIDAH


Rosulullah saw bersabda: "Dua nikmat yangk banyak manusia tertipu olehnya,yaitu sehat dan waktu senggang" (HR. Bukhari). Saudaraku, tertipu karena tdk menggunakan dua nikmat tsb untuk taat kepada Allah. Namun, rasa rugi itu tak dirasakan saat di dunia, sehingga tak mudah utk tdk tertipu. Baru pd saat ajal datang, rasa sesal krn tertipu mulai muncul, dan akan terus berlanjut sampai di akhirat. Sebuah penderitaan yang amat berat dan panjang. Na'udzubillahi min dzalik.

Jumat, 08 November 2013

HABIB BIN ZAID, Sekokoh Karang Sekuat Baja



Saat iman menghujam di dada, segala ujian dan cobaan akan terasa ringan. Tiap rasa sakit dan kesulitan akan dilihat sebagai ujian. Kala menghadapinya, bukan kesedihan yang dirasa, melainkan bahagia karena berhasil melewatinya dan membuktikan ketulusan dan kekuatan imannya kepada Allah. Inilah yang terjadi pada Habib bin Zaid, untuk mempertahankan imannya, ia rela mempertaruhkan nyawa.
Habib bin Zaid termasuk generasi awal shahabat Anshar. Sebelum berhijrah ke Madinah, Rasulullah mengirim Musab bin Umair sebagai juru dakwah. Lewat dakwah Mushab bin Umair inilah Zaid memeluk Agama Islam. Pertemuan pertamanya dengan Nabi terjadi pada peristiwa Ba’iat Aqabah kedua. Kala itu, Nabi mengumpulkan 73 shahabat dan 2 shahabiyah anshar dari kabilah Aus dan Khazraj di bukit Aqabah untuk bersumpah setia menjadi pembela dan penyebar risalah Islam.
Habib bin Zaid baktikan hidupnya untuk Islam. Ia ikut terjun dalam pertempuran-pertempuran penting. Pada perang Uhud, bersama ibunya, Ummu Umarah, Habib menjadi bagian dari pasukan Islam yang bertahan melawan pasukan kafir Quraisy. Namun, kisahnya yang paling menarik adalah saat Nabi memilihnya sebagai utusan Rasulullah kepada Musailamah al-Kadzdzab sang Nabi palsu.
Sebelum Musailamah mendeklarasikan diri sebagai Nabi, Bani Hanifiah dipimpin oleh Haudzah bin Ali. Nabi Muhammad n pernah mengirimkan shahabat Salith bin al-Amiry menyampaikan surat dakwah kepadanya. Ajakan ini diterima dengan baik dan ramah oleh Haudzah. Ia bersedia memeluk Islam sesuai ajakan Nabi n, tetapi mengajukan syarat untuk berbagi kekuasaan. Ia mengirim surat balasan tersebut dan memberikan berbagai macam hadiah bagi Nabi n, tetapi beliau tidak menanggapi syarat Haudzah.
Ketika Nabi n dalam perjalanan pulang dari Fathul Makkah, beliau mendengar kabar kematian Haudzah dari Malaikat Jibril. Beliau umumkan berita duka itu kepada para shahabat. Setelah itu beliau sampaikan sebuah ancaman baru akan terjadi.
“Akan muncul seorang pendusta yang mengaku sebagai nabi dari Yamamah. Setelah aku tiada, dia akan menjadi penjagal.”
Shahabat bertanya siapa yang akan dibunuh oleh Musailamah dan siapakah yang menjadi korbannya. Beliau menjawab, “Kalian dan teman-teman kalian.”
Prediksi Nabi di atas benar-benar terbukti. Musailamah mengangkat dirinya sebagai Nabi. Ia mendapat dukungan hingga jumlah pengikut terus bertambah besar. Khususnya dari Bani Hanifah dan penduduk Yamamah. Keberadaan mereka menjadi ancaman baru. Bahkan Musailamah berani meminta hak kenabian kepada Rasulullah saat beliau masih hidup. Dengan lancang ia mengawali suratnya, “Dari Musailamah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah.”
Nabi n mengirim balasan surat kepada Musailamah untuk membongkar kesesatannya dan menghentikan provokasinya kepada masyarakat Arab. Untuk menjalankan misi penting tersebut, Nabi n memilih Habib bin Zaid.
Habib sadar risiko yang akan dihadapinya. Misi tersebut mempertaruhkan nyawa. Namun ia siap menghadapinya. Baginya, hal itu tidak ada bedanya bertempur di medan perang melawan musuh-musuh Islam. Andai ia gugur, ia mati sebagai syahid.
Kala itu, telah menjadi etika umum bahwa seorang utusan tak boleh diganggu, dilukai apalagi dibunuh. Namun, Nabi palsu Musailamah tak mengindahkan etika tersebut. Ia perintahkan anak buahnya menangkap Habib dan menyiksanya tanpa peri kemanusiaan.
Esok harinya, Musailamah kumpulkan rakyatnya. Ia ingin menunjukkan seorang shahabat Anshar akan menjadi pendukung barunya dan murtad dari agama Islam. Jika itu terjadi, para pendukungnya akan semakin patuh dan percaya kepadanya. Wibawanya akan semakin tinggi.
Habib dibawa ke tengah kerumunan. Terlihat jelas bekas siksaan berat di sekujur tubuhnya. Setelah menghujani Habib dengan berbagai siksaan, Musailamah shahabat Anshar itu akan berubah haluan.
Musailamah bertanya dengan angkuh kepada Habib bin Zaid, “Apakah engkau mengakui Muhammad itu sebagai utusan Allah?”
“Ya, benar. Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah,” kata Habib.
Musailamah mulai geram, “Apakah engkau mengakui aku juga utusan Allah?”
“Apa? Apa yang kamu katakan? Aku tidak mendengar apapun,” kata Habib pura-pura tuli.
Amarah Musailamah langsung meledak hingga ke ubun-ubun. Ia bertanya sekali lagi, “Apakah engkau mengakui Muhammad itu sebagai utusan Allah?”
“Benar, saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah!” Jawab Habib mantap.
“Apakah engkau juga mengakui aku sebagai utusan Allah?”
Habib kembali pura-pura tak mendengar, “Apa yang kamu katakan. Aku tidak mendengar apa-apa.”
Kemarahan Musailamah tak terbendung lagi. Ia memerintahkan algojo memberinya pelajaran. Sang algojo menusukkan pedang ke tubuh Habib perlahan-lahan supaya ia merasakan sensasi kepedihan tak terperikan. Musailamah seakan tak puas melihat penderitaan Habib tersebut. Ia lalu perintahkan menyayat dan mengiris tubuh Habib sedikit demi sedikit dan sepotong demi sepotong.
Tak bisa dibayangkan rasa sakit yang menjadi penderitaan Habib bin Zaid. Siksaan berat itu benar-benar menguji keimanannya. Tapi, bukan teriakan ampun yang keluar dari mulut shahabat mulia tersebut, melainkan kalimat tauhid La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah. Ia bertekad menjaga keimanannya hingga hembusan nafas terakhir.
Habib bin Zaid lebih memilih mati dalam keimanan. Meski dalam kondisi tersebut ia mendapat ruhsah berpura-pura kafir. Ancaman maut yang dihadapinya benar-benar nyata. Ia dibiarkan hidup hanya jika mengaku beriman kepada Musailamah. Ia akan dibunuh jika masih beriman dan mengakui Muhammad sebagai Rasulullah. Tiada pilihan lain. Karena kondisi itulah, ia dibolehkan mengucapkan kalimat kufur, sedang hatinya mengingkari dan masih tetap beriman.
Kendati demikian, Habib lebih memilih mati syahid daripada harus bertaqiyah. Pilihan ini memang tidak ringan. Namun ia menjalaninya dengan tabah karena yakin pahala yang lebih besar dari Allah. [ali]