Minggu, 20 Januari 2013

Doa saat menghadapi kesusahan dan kesempitan hidup


Hidup seorang manusia tidak akan pernah lepas dari kesusahan, kesempitan hidup, kesedihan, musibah dan cobaan. Dalam kondisi sempit seperti itu, tiada tempat yang lebih baik untuk mengadu dan meminta selain Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rabb yang menurunkan ujian kepada hamba-Nya untuk hikmah tertentu.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam telah mengajarkan kepada kita untuk kembali kepada Allah Ta'ala saat berbagai kesusahan dan kesempitan hidup mendera kita. Kita harus kembali kepada Allah Ta'ala dengan memuji-Nya, mengagungkan-Nya dan mengesakan-Nya.
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Jika sedang menghadapi sebuah kesusahan, Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam biasa membaca doa:
«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ العَلِيمُ الحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ رَبُّ العَرْشِ الكَرِيمِ»
"Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah Pemilik 'arsy yang agung. Tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Allah pemilik langit, pemilik bumi dan pemilik 'arsy yang mulia." (HR. Bukhari no. 7426 dan Muslim no. 2730)
Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi berkata: "Ini adalah sebuah hadits yang agung, wajib diperhatikan dan harus sering dibaca saat menghadapi kesusahan hidup dan perkara-perkara yang berat."
Imam Muhammad bin Jarir Ath-Thabari berkata: "Generasi salaf (sahabat) sering membaca doa ini dan mereka menyebutnya doa kesusahan hidup."
(muhib almajdi/arrahmah.com)

Al-Qolam Kr-Moncol

Senin, 17 Desember 2012

Suami Istri yang Kelaparan lalu Allah Memberikan Rizki untuk Mereka Makan


Hadis :
Thabrani meriwayatkan dalam Al-Ausath dan Baihaqi dalam Ad-Dalail dari Abu Hurairah ia berkata, "Seorang laki-laki tertimpa kelaparan, lalu dia pergi ke daratan. Istrinya pun berdoa, "Ya Allah limpahkanlah rizki-Mu kepada kami  apa yang cukup untuk menjadi adonan kami  dan roti kami." Ketika suaminya pulang, nampannya penuh dengan adonan dan di atas tungku terdapat daging  yang siap dimasak serta penggilingan mereka bekerja menggiling. Suami bertanya, "Dari mana semua ini?" Istri menajwab, "Rizqi dari Allah." Maka dia menyapu apa yang ada di sekeliling penggilingan. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam bersabda, "Seandainya dia membiarkannya niscaya penggilingan itu akan berputar atau menggiling sampai pada hari kiamat."

Penjelasan Hadis
Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menceritakan sepasang suami istri yang shalih. Keduanya dalam keadaan sangat lapar. Saking laparnya, suaminya tidak tahan berdiam di rumah. Diapun keluar ke daratan. Lalu si istri berdoa kepada Allah agar memberinya rizki sebuah penggilingan dan memberinya adonan untuk membuat roti. Allah mengabulkan doanya. Ketika suaminya pulang, nampan besar yang biasa digunakan untuk mengaduk adonan telah penuh dengan adonan, dan penggilingan terus berputar  menggiling biji-bijian, sementara di atas tungku terdapat daging yang melimpah siap untuk dimasak.
Suaminya bertanya, "Dari mana ini?" Istrinya menjawab, "Dari rizki Allah." Lalu suaminya menyapu remahan di sekeliling penggilingan. Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam menyampaikan bahwa seandainya laki-laki ini membiarkan penggilingan bekerja, niscaya ia terus bekerja sampai hari kiamat.
Mungkin ada yang tidak percaya kepada kisah seperti ini dengan alasan karena tidak masuk akal. Orang yang seperti ini, dia lupa bahwa itu adalah rizki Allah kepada hamba-hambaNya yang shalih sebagai karamah bagi mereka dan Alah berkuasa atas segala sesuatu. Dan hal seperti itu sudah sering terjadi di banyak peristiwa pada masa Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan para sahabatnya, di mana Allah melimpahkan makanan dan minuman, lalu mereka makan dan minum dari makanan dan minuman yang hanya cukup untuk sedikit orang saja.

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah  Hadis
1.      Adanya karamah bagi hamba-hamba Allah yang shalih. Hal ini ditetapkan oleh banyak dalil yang sampai pada tingkat mutawatir, dan beriman kepada karamah para wali termasuk akidah ahlus sunah wal jamaah. Akan tetapi karamah hanya terjadi pada para wali yang benar-benar bertaqwa. Sesuatu yang di luar batas kewajaran mungkin saja terjadi pada orang terusak di muka bumi ini, dan di antaranya adalah dajjal yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam. Tidak boleh memberitakan karamah seorang hamba Allah kecuali diyakini kebenarannya atau dengan kesaksian atau penglihatan. Banyak sekali dusta dalam hal ini dari para pembual dan pendusta yang memainkan akal manusia. Mereka mengklaim secara dusta karamah untuk diri mereka atau syaikh mereka.
2.      Besarnya keuatamaan doa. Allah telah mengabulkan doa wanita ini. "Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu." (Ghafir: 60).
3.      Adanya orang shalih pada zaman umat terdahulu.
4.      Dari hadis ini kita mengetahui bahwa manusia sejak dulu telah mengenal adonan dan roti. Mereka mengenal penggilingan untuk menghaluskan biji-bijian, nampan untuk adonan, dan cetakan untuk membuat dan mematangkan roti.

Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 215-217.

Al-Qolam Kr-Moncol
 

Mensyukuri Hadiah Kehidupan



– Pagi yang sempurna, cerah nan indah mentari menyapa, diiring merdu kicau burung berbaur ocehan anak-anak bahagia, lembut semilir segar mengalir menghadirkan kesejukan alam membawa karunia Allah ‘Azza wa Jalla, sejuk udara pagi melengkapi kenikmatan secangkir teh manis alami.
Wahai saudara, sadarkah kita sekian banyak nikmat yang berlalu begitu saja, seakan tiada yang istimewa, semua biasa saja, setiap pagi setiap hari semacam itu berlalu bersama umur yang melaju dan tiba-tiba kita terhenyak tersadar akan sekian banyak nikmat yang berlalu ketika semua sudah hilang dan tiada kita miliki lagi, padahal belum sempat
Sering kali manusia terlalu sempit memaknai nikmat karunia Ilahi, hanya yang bersifat materi, sedangkan yang tidak berhubungan dengan materi selalu luput dari perhatian, dan cenderung dilupakan. Betapa senangnya ketika seseorang mendapatkan uang sejuta, misalnya, atau menerima hadiah sepeda motor. Kebahagiaan pun diungkapkan dengan biasa. Ia akan berterima kasih kepada yang memberikan hadiah itu, bahkan bisa jadi berulang kali.
Namun, pernahkah terpikirkan bahwa ada banyak hadiah lain yang luar biasa besarnya hanya berlalu begitu saja, seakan kita tidak pernah menyadarinya, sehingga tidak ada keinginan untuk berterima kasih atau bersyukur atas hadiah tersebut. Sebut saja tarikan dan hembusan nafas yang setiap waktu dilakukan manusia, pernahkah kita haturkan syukur atas kembang kempisnya paru-paru? Sadarkah ini adalah hadiah kehidupan dari Allah ‘Azza wa Jalla? Hadiah ini lebih pantas untuk disyukuri daripada hadiah dari manusia.
Pernahkah kita menghitung berapa kali kita bernafas? Berapa tarikan dan hembusan udara dari rongga dada yang dilakukan tiap harinya? Tak terhitung tentunya, dan sebanyak itulah setidaknya, bahkan lebih dari itu manusia mendapatkan hadiah kesempatan hidup, dan semestinya sebesar itu pula manusia bersyukur kepada Sang Pencipta.
Hadiah kehidupan, suatu karunia yang tiada ternilai dengan kata-kata, sekian banyak orang mau membayar dengan harga berapa pun untuk kehidupannya. Sebagian orang mencari hadiah kehidupan di setiap sudut bumi, setiap tempat dijelajahi untuk mendapatkan tambahan kesempatan kehidupan, bahkan berharap keabadian yang tak mungkin didapatkan di dunia ini. Berapa pun harta yang harus dikeluarkan akan disiapkan. Namun Allah telah memberikan hadiah kehidupan kepada manusia tanpa diminta, manusia telah mendapat lebih dari yang diharapkan.
Syukur seharusnya dilakukan setiap detik bersama tarikan dan hembusan nafas dengan  tulus dan ikhlas. Syukur selanjutnya harus memberikan makna lebih atas kesempatan hidup yang dikaruniakan, sehingga hidup lebih bernilai, yang akhirnya mendapatkan hadiah kebahagiaan yang utuh, materi dan maknawi. (By Losing Generation)
Editor: Agus
Dari : An-najah.net

Kamis, 14 Juni 2012

MENIKMATI KEGAGALAN


Mengalami kegagalan ibarat mengunyah brotowali, pahit rasanya dan sangat tidak enak. Ini sekadar ilustrasi betapa kegagalan sangat tidak diinginkan setiap orang. Apa lagi jika kita sudah mengerahkan usaha secara maksimal. Faktor keberhasilan juga telah dipenuhi. Tapi, hasilnya ternyata jauh dari yang diharapkan. Karena itu, wajar jika orang merasa frustasi bila nasib ini menimpanya. Kegagalan memang takdir yang tak dapat diubah. Namun, frustasi bukan jawaban tepat karena tak dapat mengubah keadaan. Kegagalan adalah keniscayaan tapi bangkit dan berusaha lagi adalah pilihan. Inilah yang membedakan antara pemenang dan pecundang.
Tak Ada Kambing Hitam
Semua orang pernah mengalami kegagalan dengan bentuk dan kadar yang berbeda-beda. Agar lebih baik, tetaplah berhusnudzan, berfikir positif bahwa itu hanyalah tapak awal menuju kemenangan. Rasulullah SAW pernah mengalami saat terberat dalam hidupnya ketika berdakwah kepada orang Thaif. Beliau sangat berharap mereka memeluk Islam. Namun, tak ada satu orang pun yang menerima. Ajakan ramah beliau dijawab dengan cercaan dan siksaan. Bayangkan seorang Rasul yang mulia diusir keluar kampung dengan dihina. Beliau terus dilempari batu dan kerikil sepanjang perjalanan 3 mil. Kaki beliau berdarah-darah. Tak terhitung pula luka Zaid bin Haritsah yang pasang badan melindungi beliau. Namun yang paling menyakitkan bagi Beliau ialah jawaban ketua kaum, “Apakah Allah tidak menemukan orang lain sehingga terpaksa mengangkatmu sebagai Rasul?”
Pada saat kritis seperti itu, optimisme tak boleh mati. Keimanan terhadap takdir tak boleh goyah. Keyakinan ini membawa harapan bahwa Allah selalu memberi kemenangan dan jalan keluar. Faiina maal usri yusra, setiap kesulitan membawa kemudahan. Oleh karena itu doa yang mengalir dari lisan Rasulullah SAW adalah harapan,
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sungguh, mereka hanyalah orang-orang yang tidak tahu.”
Celah Itu Tetap Ada
Sejarah Islam pernah menorehkan prestasi hebat lewat seorang ilmuwan yang bernama Hassan bin Al Haitsam. Beliau adalah ilmuwan muslim pertama menggunakan pendekatan modern dalam studinya, yaitu berdasarkan pengumpulan data melalui pemantauan dan pengukuran, yang diikuti oleh tahap formulasi dan pengujian hipotesa guna menjelaskan data yang didapat. Beliau menemukan teori tentang cahaya alami dan refleksi. Beliau juga mengembangkan teori yang yang disebut sebagai mekanisme benda angkasa yang menjelaskan orbit planet. Bukti penelitian Al Haitsam di bidang astronomi masih dapat ditemukan di musium Iskandariyah hingga saat ini. Di balik semua kisah hebat itu Beliau tetap manusia dan pernah terpuruk dalam kegagalan. Bahkan beliau sempat dipenjara dan dikucilkan antara tahun 1011 dan 1021, setelah gagal menyelesaikan tugas yang diberikan oleh khalifah yang memintanya menyelesaikan masalah tentang pengaturan banjir sungai Nil. Dia baru dibebaskan karena khalifah yang menghukumnya meninggal dunia.
Kisah ini mengajarkan bahwa, pantang menyerah adalah ciri orang yang sukses. Semangat ini selalu membuka jalan untuk tetap berkarya. Kegagalan dimaknai sebagai waktu untuk rehat dan beristirahat sejenak. Jadi, gagal bukanlah akhir segalanya. Al Haitsam telah membuktikannya, beliau berhasil menyusun 100 penelitian ilmiah dalam berbagai topik di bidang fisika dan matematika.
Anda Luar Biasa!
Siapa yang tidak mengenal Ibnu Khaldun? Dunia mendaulatnya sebagai Bapak Sosiologi Islam. Sebagai salah seorang ilmuwan hebat yang buah pikirnya amat berpengaruh. Tidak hanya dikagumi di kalangan ulama muslim tapi sederet ilmuwan barat kagum kepadanya. Buah karyanya, Kitab Al Mukaddimah, hingga kini dijadikan referensi oleh para sarjana ilmu sosial di seluruh dunia.
Tidak banyak orang yang tahu bahwa beliau pernah mengalami masa sulit dan kegagalan. Salah satunya, kegagalan dalam dunia politik praktis. Akhirnya beliau mentalak dunia politik dan kembali ber-tafaqquh fiddin. Dalam masa penyepiannya ini beliau menulis kitab Al Mukaddimah. Sebuah buku yang menjadi dasar ilmu sosiologi. Karya ini membuat namanya tetap dikenang hingga kini.
Kegagalan adalah saat yang tepat untuk muhasabah dan mengevaluasi. Apakah kita memang mengambil jalan yang tepat? Apakah cara tersebut benar dan tepat? Ini juga merupakan saat yang pas untuk mengenali potensi kita yang terpendam. Bisa jadi kelebihan itu tidak terlihat karena kita terlalu fokus pada hal-hal lain. Kenalilah diri sendiri dan fokuslah pada kelebihan itu.
Guru paling ampuh
Satu kisah kegagalan yang sangat telak terjadi pada perang Uhud. Tujuh puluh shahabat tewas dalam peperangan ini dan ratusan lainnnya terluka. Bahkan Pipi Rasulullah SAW tertembus besi hingga melukai gerahamnya. Kegagalan ini diakibatkan karena pasukan pemanah meninggalkan posnya di atas bukit. Selain itu, 300 tentara meninggalkan medan perang akibat provokasi orang munafik.
Kegagalan ini mengguyurkan kesedihan bagi shahabat. Namun memberikan pelajaran yang amat berharga bagi kaum muslimin tentang pentingnya taat kepada pemimpin, tentang mengorbankan ego pribadi demi maslahat jama’i. Dan, membuktikan bahwa menuruti kenginan pribadi di atas kepentingan bersama harus ditebus dengan harga mahal. Selain itu, para shahabat belajar untuk tidak melibatkan orang munafik dalam peperangan. Keberadaan orang munafik seperti kata pepatah, ‘duri dalam daging’, gerakannya merusak bagian di sekelilingnya. Karena itulah Rasulullah SAW selalu menahan keinginan orang munafik untuk ikut dalam ekspedisi peperangan, seperti pada perang khaibar. Setelah itu, tidak pernah terdengar bahwa kaum muslimin mengalami kegagalan yang serupa.
Seperti itulah tipikal orang-orang sukses. Proses menuju keberhasilan begitu beriku dan unik. Mereka memaknai Kegagalan sebagai satu bagian dari rangkaian proses keberhasilan. Kegagalan adalah bahan evalauasi. Hasilnya ialah ilmu dan pengalaman. Seorang muslim boleh gagal karena gagal adalah guru yang paling berharga. Kemenangan memberi kebagiaan sedangkan proses membawa ilmu dan pengalaman yang berguna bagi dirinya dan orang lain. Jangan takut gagal. Temukan faktor dan sebab kegagalan itu lalu perbaikilah. Tetaplah menjadi mukmin yang kuat yang tidak tersandung oleh batu yang sama. Rasulullah saw bersabda,
“Seorang mukmin tidak jatuh dua kali ke satu lubang (yang sama).” (HR. Bukhari)
Barang kali inilah jawaban kenapa ada dua orang yang sama-sama gagal, tapi akhirnya bernasib berbeda. Orang yang sukses belajar dari kegagalannya. Tidak menyalahkan orang lain. Dan mencari faktor kegagalan kemudian memperbaikinya. Mereka tidak mau berlama-lama ‘menikmati’ kekalahan. Mereka berusaha mengambil pelajaran yang kemudian menjadi pengalaman yang berharga.
Semoga kita termasuk kelompok tersebut. Amin.

Dari : Arrisalah
Al-Qolam Kr-Moncol