Mengalami kegagalan ibarat mengunyah brotowali, pahit rasanya dan sangat
tidak enak. Ini sekadar ilustrasi betapa kegagalan sangat tidak diinginkan
setiap orang. Apa lagi jika kita sudah mengerahkan usaha secara maksimal.
Faktor keberhasilan juga telah dipenuhi. Tapi, hasilnya ternyata jauh dari yang
diharapkan. Karena itu, wajar jika orang merasa frustasi bila nasib ini
menimpanya. Kegagalan memang takdir yang tak dapat diubah. Namun, frustasi
bukan jawaban tepat karena tak dapat mengubah keadaan. Kegagalan adalah
keniscayaan tapi bangkit dan berusaha lagi adalah pilihan. Inilah yang
membedakan antara pemenang dan pecundang.
Tak Ada Kambing Hitam
Semua orang pernah mengalami kegagalan dengan bentuk dan kadar yang
berbeda-beda. Agar lebih baik, tetaplah berhusnudzan, berfikir positif bahwa
itu hanyalah tapak awal menuju kemenangan. Rasulullah SAW pernah mengalami saat
terberat dalam hidupnya ketika berdakwah kepada orang Thaif. Beliau sangat
berharap mereka memeluk Islam. Namun, tak ada satu orang pun yang menerima.
Ajakan ramah beliau dijawab dengan cercaan dan siksaan. Bayangkan seorang Rasul
yang mulia diusir keluar kampung dengan dihina. Beliau terus dilempari batu dan
kerikil sepanjang perjalanan 3 mil. Kaki beliau berdarah-darah. Tak terhitung
pula luka Zaid bin Haritsah yang pasang badan melindungi beliau. Namun yang
paling menyakitkan bagi Beliau ialah jawaban ketua kaum, “Apakah Allah tidak
menemukan orang lain sehingga terpaksa mengangkatmu sebagai Rasul?”
Pada saat kritis seperti itu, optimisme tak boleh mati. Keimanan terhadap
takdir tak boleh goyah. Keyakinan ini membawa harapan bahwa Allah selalu
memberi kemenangan dan jalan keluar.
Faiina maal usri yusra, setiap
kesulitan membawa kemudahan. Oleh karena itu doa yang mengalir dari lisan
Rasulullah SAW adalah harapan,
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku. Sungguh, mereka hanyalah
orang-orang yang tidak tahu.”
Celah Itu Tetap Ada
Sejarah Islam pernah menorehkan prestasi hebat lewat seorang ilmuwan yang
bernama Hassan bin Al Haitsam. Beliau adalah ilmuwan muslim pertama menggunakan
pendekatan modern dalam studinya, yaitu berdasarkan pengumpulan data melalui
pemantauan dan pengukuran, yang diikuti oleh tahap formulasi dan pengujian
hipotesa guna menjelaskan data yang didapat. Beliau menemukan teori tentang
cahaya alami dan refleksi. Beliau juga mengembangkan teori yang yang disebut
sebagai mekanisme benda angkasa yang menjelaskan orbit planet. Bukti penelitian
Al Haitsam di bidang astronomi masih dapat ditemukan di musium Iskandariyah
hingga saat ini. Di balik semua kisah hebat itu Beliau tetap manusia dan pernah
terpuruk dalam kegagalan. Bahkan beliau sempat dipenjara dan dikucilkan antara
tahun 1011 dan 1021, setelah gagal menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
khalifah yang memintanya menyelesaikan masalah tentang pengaturan banjir sungai
Nil. Dia baru dibebaskan karena khalifah yang menghukumnya meninggal dunia.
Kisah ini mengajarkan bahwa, pantang menyerah adalah ciri orang yang sukses.
Semangat ini selalu membuka jalan untuk tetap berkarya. Kegagalan dimaknai
sebagai waktu untuk rehat dan beristirahat sejenak. Jadi, gagal bukanlah akhir
segalanya. Al Haitsam telah membuktikannya, beliau berhasil menyusun 100
penelitian ilmiah dalam berbagai topik di bidang fisika dan matematika.
Anda Luar Biasa!
Siapa yang tidak mengenal Ibnu Khaldun? Dunia mendaulatnya sebagai Bapak
Sosiologi Islam. Sebagai salah seorang ilmuwan hebat yang buah pikirnya amat
berpengaruh. Tidak hanya dikagumi di kalangan ulama muslim tapi sederet ilmuwan
barat kagum kepadanya. Buah karyanya, Kitab Al Mukaddimah, hingga kini
dijadikan referensi oleh para sarjana ilmu sosial di seluruh dunia.
Tidak banyak orang yang tahu bahwa beliau pernah mengalami masa sulit dan
kegagalan. Salah satunya, kegagalan dalam dunia politik praktis. Akhirnya
beliau mentalak dunia politik dan kembali ber-
tafaqquh fiddin. Dalam
masa penyepiannya ini beliau menulis kitab Al Mukaddimah. Sebuah buku yang
menjadi dasar ilmu sosiologi. Karya ini membuat namanya tetap dikenang hingga
kini.
Kegagalan adalah saat yang tepat untuk muhasabah dan mengevaluasi. Apakah
kita memang mengambil jalan yang tepat? Apakah cara tersebut benar dan tepat?
Ini juga merupakan saat yang pas untuk mengenali potensi kita yang terpendam.
Bisa jadi kelebihan itu tidak terlihat karena kita terlalu fokus pada hal-hal
lain. Kenalilah diri sendiri dan fokuslah pada kelebihan itu.
Guru paling ampuh
Satu kisah kegagalan yang sangat telak terjadi pada perang Uhud. Tujuh puluh
shahabat tewas dalam peperangan ini dan ratusan lainnnya terluka. Bahkan Pipi
Rasulullah SAW tertembus besi hingga melukai gerahamnya. Kegagalan ini
diakibatkan karena pasukan pemanah meninggalkan posnya di atas bukit. Selain
itu, 300 tentara meninggalkan medan perang akibat provokasi orang munafik.
Kegagalan ini mengguyurkan kesedihan bagi shahabat. Namun memberikan
pelajaran yang amat berharga bagi kaum muslimin tentang pentingnya taat kepada
pemimpin, tentang mengorbankan ego pribadi demi maslahat
jama’i. Dan,
membuktikan bahwa menuruti kenginan pribadi di atas kepentingan bersama harus
ditebus dengan harga mahal. Selain itu, para shahabat belajar untuk tidak
melibatkan orang munafik dalam peperangan. Keberadaan orang munafik seperti
kata pepatah, ‘duri dalam daging’, gerakannya merusak bagian di sekelilingnya.
Karena itulah Rasulullah SAW selalu menahan keinginan orang munafik untuk ikut
dalam ekspedisi peperangan, seperti pada perang khaibar. Setelah itu, tidak
pernah terdengar bahwa kaum muslimin mengalami kegagalan yang serupa.
Seperti itulah tipikal orang-orang sukses. Proses menuju keberhasilan begitu
beriku dan unik. Mereka memaknai Kegagalan sebagai satu bagian dari rangkaian
proses keberhasilan. Kegagalan adalah bahan evalauasi. Hasilnya ialah ilmu dan
pengalaman. Seorang muslim boleh gagal karena gagal adalah guru yang paling
berharga. Kemenangan memberi kebagiaan sedangkan proses membawa ilmu dan
pengalaman yang berguna bagi dirinya dan orang lain. Jangan takut gagal.
Temukan faktor dan sebab kegagalan itu lalu perbaikilah. Tetaplah menjadi
mukmin yang kuat yang tidak tersandung oleh batu yang sama. Rasulullah saw
bersabda,
“Seorang mukmin tidak jatuh dua kali ke satu lubang (yang sama).” (HR.
Bukhari)
Barang kali inilah jawaban kenapa ada dua orang yang sama-sama gagal, tapi
akhirnya bernasib berbeda. Orang yang sukses belajar dari kegagalannya. Tidak
menyalahkan orang lain. Dan mencari faktor kegagalan kemudian memperbaikinya.
Mereka tidak mau berlama-lama ‘menikmati’ kekalahan. Mereka berusaha mengambil
pelajaran yang kemudian menjadi pengalaman yang berharga.
Semoga kita termasuk kelompok tersebut. Amin.
Dari : Arrisalah
Al-Qolam Kr-Moncol